Mentawai – Puluhan sapi bantuan yang merupakan program pokok pikiran (pokir) anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Mentawai dilaporkan mati setelah disalurkan ke kelompok peternak di berbagai wilayah. Hal ini memicu sorotan publik terhadap efektivitas program tersebut. Sapi-sapi bantuan itu disalurkan ke wilayah Sipora Jaya, Tuapeijat (Sipora Utara), hingga Pasapuat (Pagai Utara).

Wiki Sunandar, Ketua Kelompok Peternak Angon Babon Sipora Jaya, mengatakan, kelompoknya menerima 11 ekor sapi Bali dari pokir anggota DPRD Manual Simamora pada Agustus 2025. Wiki menjelaskan, serah terima sapi dilakukan langsung bersama Dinas Pertanian Mentawai.

“Awalnya sehat, tapi lama-lama ada yang sakit. Tidak mau makan, lemas, lalu mati mendadak. Dari 11 ekor, sekarang tinggal 3 ekor yang hidup,” ujar Wiki.

Penyakit tersebut, lanjut Wiki, juga menular ke ternak lokal milik warga. “Kurang lebih 14 ekor sapi lokal ikut mati. Total sudah 22 ekor yang hilang. Kerugiannya besar, satu ekor sapi saja harganya Rp15-16 juta,” ungkapnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Mentawai, Hatisama Hura, membenarkan adanya kasus kematian sapi bantuan pokir tersebut. Hatisama menjelaskan, berdasarkan data DKPP, sebanyak 91 ekor sapi didistribusikan pada tahun 2025 ke empat desa, yaitu Sipora Jaya, Tuapeijat, Saumanganya (Pasapuat), dan Sikakap, yang berasal dari pokir tiga anggota DPRD: James Sibarani, Manual Simamora, dan Alexandre Zalukhu.

“Dari data kita, sudah 13 ekor sapi pokir yang mati. Selain itu berdampak ke ternak masyarakat, ada 21 ekor sapi lokal yang mati di Sipora Jaya dan Pasapuat,” kata Hatisama.

Hatisama menambahkan, hasil uji laboratorium Balai Veteriner Bukittinggi menunjukkan bahwa beberapa sapi terjangkit penyakit jembrana dan parasit darah. “Dari sampel kita kirim, lalu diuji Balai Veteriner, ada indikasi 5 ekor jembrana, 3 ekor parasit darah. Bisa dipicu cuaca atau daya tahan tubuh sapi yang menurun,” ujarnya, Senin (22/9/2025).

Lebih lanjut, Hatisama mengakui bahwa Mentawai tidak memiliki dokter hewan PNS. “Itu kendala utama kita. Maka kami sudah menyurati Balai Veteriner Bukittinggi dan Dinas Peternakan provinsi untuk bantuan vaksin dan obat-obatan,” tambahnya.

Kepala Desa Sipora Jaya, Lufianto, menuturkan bahwa dua hingga tiga minggu setelah sapi diserahkan, satu per satu mulai sakit hingga mati. “Awalnya saya kira biasa saja karena sapi lokal belum ada yang mati. Tapi setelah 7 sapi Bali mati dan sapi lokal ikut terjangkit, baru jelas masalahnya serius,” katanya.

Sementara itu, anggota DPRD Mentawai dari Fraksi Perindo, James Sibarani, menegaskan bahwa pengadaan sapi pokir telah melalui prosedur resmi. Sibarani menjelaskan, sapi-sapi tersebut berasal dari Pasaman dan sempat menjalani karantina selama dua minggu di Padang sebelum dikirim ke Mentawai.

“Pokir ini melalui rekanan yang ditentukan dinas lewat tender. Semua prosedur karantina sudah dilalui. Kalau kemudian mati, itu di luar kemampuan kita. Saya rasa tidak ada lagi yang bisa disalahkan,” tegasnya.

Sibarani menambahkan, anggaran untuk 11 ekor sapi Bali di Desa Sipora Jaya mencapai Rp170 juta. Ia berjanji akan lebih fokus pada program pertanian sesuai permintaan masyarakat ke depannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *