Bogor – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bogor terus dipantau kualitasnya. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanah Sareal, Kedungbadak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat, berupaya mempertahankan status zero accident selama hampir sembilan bulan beroperasi.
SPPG yang mulai beroperasi sejak Jumat (6/1/2025) ini, setiap hari memproduksi lebih dari 3.500 porsi MBG. Makanan bergizi tersebut didistribusikan ke 15 sekolah dari tingkat TK hingga SMA sederajat dalam radius 5 kilometer. Program ini tidak hanya menyasar siswa sekolah, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Ahli Gizi SPPG Tanah Sareal, Countessha Nicola (Tessa) menjelaskan, pengawasan ketat dilakukan mulai dari proses penerimaan bahan makanan hingga penyajian. “Intinya, kami mengawasi mulai dari proses bahan makanan masuk sampai makanan disajikan,” jelasnya, Selasa (23/9/2025).
Tessa menambahkan, timnya melakukan kontrol kualitas bahan makanan sebelum masuk ke ruangan dan memisahkan bahan yang kurang berkualitas. Penyimpanan bahan makanan kering dan basah juga dilakukan terpisah.
Setelah pemilahan, bahan makanan basah seperti daging dan bumbu-bumbu disimpan di tempat pendingin dengan suhu yang disesuaikan. “Misalnya, daging disimpan di suhu di bawah -15 derajat Celcius. Bumbu masak juga disimpan di tempat pendingin,” kata Tessa pada Selasa (23/9/2025).
Proses memasak dimulai sejak pukul 01.00 WIB dini hari untuk menu yang membutuhkan waktu pengolahan lama, seperti daging. Sementara untuk menu sederhana, proses memasak dimulai pukul 02.00 WIB.
“Untuk pemorsian dan pengemasan, kami start pukul 05.00 WIB karena tentunya ada proses pendinginan terlebih dulu,” tutur Tessa. Ia menambahkan, proses pendinginan penting untuk mencegah makanan cepat basi akibat penguapan air yang dapat meningkatkan kontaminasi bakteri.
Makanan yang sudah dikemas kemudian didistribusikan ke sekolah dan harus tiba pukul 07.00 WIB untuk disantap oleh siswa TK, PAUD, dan SD. SPPG Tanah Sareal menerapkan sistem shift dengan total 46 pekerja.
Proses memasak gelombang kedua dimulai pukul 07.00 WIB, pemorsian dan pengemasan pukul 09.00 WIB, dan pengiriman pukul 11.00 WIB untuk penerima manfaat SMP dan SMA sederajat. “Untuk makanan, golden time pada saat disajikan itu baiknya dalam waktu kurang dari 4 jam. Nah, apabila lebih dari itu, sebenarnya makanan sudah rentan basi,” jelas Tessa.
Selain itu, SPPG Tanah Sareal juga melakukan uji organoleptik terhadap makanan yang sudah siap saji, meliputi penglihatan, penciuman, perasa, peraba, hingga pendengaran. “Aroma, rasa, hingga warnanya seperti apa. Kemudian kita simpan food sample-nya,” ujar Tessa.
Sampel makanan disimpan maksimal 14×24 jam atau dua minggu dan dapat dikirimkan ke Dinas Kesehatan jika ada kejadian yang tidak diinginkan. Penggunaan APD seperti masker, penutup kepala, sarung tangan, dan alas kaki yang higienis juga menjadi prosedur standar. “Semua harus dalam keadaan higienis. Jadi, tidak ada kontaminasi dari pegawai sendiri pada makanan yang sudah diproduksi,” ungkap Tessa.
Pemilihan menu dilakukan secara serius dengan memperhatikan angka kecukupan gizi (AKG). “Misalkan, untuk anak sekolah susunya harus berapa mililiter. Kemudian, untuk buahnya itu harus berapa gram. Jadi, jangan sampai ada buah atau makanan yang tidak sesuai gramasinya. Kalau tidak sesuai berarti kami tidak bekerja maksimal,” bebernya.
Terakhir, SPPG Tanah Sareal juga memilah sampah dari MBG, yang terdiri dari sampah sisa makanan dan sampah bahan makanan. “Sampah-sampah ini didistribusikan untuk pengusaha kecil di sekitar lokasi SPPG, seperti peternak lele atau peternak maggot,” pungkas Tessa.











