Padang – Perubahan lirik lagu menjadi ‘kok indak jodoh, tuhan den paso’ menuai polemik di tengah masyarakat, memicu reaksi beragam baik di dunia maya maupun nyata. Dosen UIN Imam Bonjol Padang, Nofel Nofiardi, pada Jumat (27/6/2025) memberikan analisis terkait fenomena ini dari sudut pandang dua realitas yang berbeda.

Nofiardi menjelaskan bahwa lirik aslinya adalah ‘Kok ndak jodoh, tuhan kuaso,’ yang merupakan ungkapan biasa. Namun, menurutnya, ketika disandingkan dengan ungkapan “cinta ditolak, dukun bertindak,” nilai moralnya menjadi lebih tinggi karena ungkapan kedua merepresentasikan perbuatan syirik. “Makna memang sejatinya begitu. Secara teoritis makna ditentukan dari relasi yang dibuat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nofiardi menjelaskan bahwa pada dasarnya segala sesuatu bersifat netral. Adanya ruang dan waktu memungkinkan segala sesuatu dihubung-hubungkan, melahirkan makna dan nilai. “Hanya jika ada ruang dan waktu lah tindakan dapat berlaku dan malaikat bekerja mencatat apakah itu termasuk dosa atau termasuk berpahala,” katanya.

Perubahan lirik menjadi ‘kok indak jodoh, tuhan den paso’ kerap terdengar di berbagai kesempatan, termasuk pertunjukan musik dan perkumpulan anak muda. Ungkapan serupa juga sempat mencuat dalam sebuah konser musik di Payakumbuh, yang kemudian viral dan memicu perdebatan.

Nofiardi memandang perlu adanya pembedaan antara dua realitas, yaitu realitas asli saat konser di Payakumbuh dan realitas digital. “Pada saat ini dua realitas itu harus dibedakan karena sistem pemaknaan yang berlaku akan tidak sama. Walaupun begitu, keduanya dapat disebut sebagai sebuah teks,” jelasnya.

Mengutip Suzzane Eggins, Nofiardi mendefinisikan teks sebagai produk interaksi sosial yang otentik. Teks dalam realitas pertama mencakup orang, musik, lirik, suasana malam di Payakumbuh, dan interaksi lainnya. Sementara itu, teks dalam realitas digital adalah rekaman pendek dari realitas pertama, khususnya momen saat lirik ‘tuhan den paso’ dinyanyikan.

Untuk mendapatkan pemaknaan yang tepat, Nofiardi menekankan pentingnya melibatkan semua elemen pembentuk teks, termasuk koherensi dan kohesi. “Ungkapan ‘tuhan den paso’ itu harus dimaknai dengan menghubungkannya dengan seluruh lirik dalam lagu (kohesi) dan menghubungkannya dengan kontek sosial dan kultural Payakumbuh yang punya sejarah basijontiak (koherensi),” terangnya.

Nofiardi mencontohkan, lirik ‘tuhan den paso’ juga sering terdengar di kalangan pemuda kampung saat malam hari. “Memang relasi antara individu dengan teks tersebut dapat menciptakan pemaknaan yang beragam. Mereka yang sedang putus cinta akan merasuki teks itu lebih dalam,” imbuhnya.

Realitas digital, menurut Nofiardi, adalah realitas turunan di mana penonton menafsirkan apa yang mereka tonton berdasarkan perasaan, pengetahuan, dan latar belakang mereka. Ketidaksamaan elemen pembentuk teks berpotensi mempengaruhi hasil pemaknaan.

“Ranah digital adalah realitas baru. Dia ada dan tidak bisa lagi disebut sebagai dunia maya,” tegas Nofiardi pada Jumat (27/6/2025). Ia menambahkan bahwa realitas turunan ini mungkin menjadi lebih nyata, namun pada akhirnya, “kok indak jodoh, ndak asi lo paso-paso.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *