Tangerang Selatan – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tangerang Selatan tak hanya menyasar pemenuhan nutrisi anak-anak, tetapi juga membuka jalan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk berkembang. Ifta Bintan, seorang pemilik usaha pemasok ikan segar, merasakan dampak positif dari program tersebut.
Bintan, yang akrab disapa Bintan, mengungkapkan bahwa usahanya mengalami perkembangan pesat sejak dipercaya menjadi pemasok ikan untuk program MBG. “Karyawan saya tambah banyak. Mitra kami juga bertambah. Dengan adanya MBG ini, saya banyak membantu ibu-ibu di sekitar rumah untuk ikut bekerja memotong, mencabut duri, lalu memfillet,” ujarnya pada Jumat (27/6/2025).
Saat ini, Bintan mempekerjakan 15 orang untuk memilih, menimbang, dan memfillet ikan yang akan diolah di dapur MBG. Ia juga mengatakan setiap hari menyuplai 3.000 hingga 6.000 potong ikan fillet untuk memenuhi permintaan SPPG. Guna memenuhi permintaan tersebut, Bintan kini bekerja sama dengan enam nelayan, meningkat dari sebelumnya yang hanya dua.
“Kami upayakan ikan-ikan tidak lebih dari 4 jam di suhu ruang. Walaupun selalu diberi es batu supaya tetap fresh,” imbuhnya.
Menurut Bintan, MBG bukan hanya sekadar peluang usaha, melainkan juga sumber keberlangsungan hidup bagi banyak orang. Ia berharap program prioritas Presiden Prabowo ini dapat terus dilanjutkan. “Justru program ini harus lebih dimaksimalkan agar semakin banyak anak-anak yang mendapatkan makanan bergizi. Saya juga ingin memperkenalkan ikan kepada anak-anak bahwa ikan itu enak dan bergizi,” kata Bintan pada Jumat (27/6/2025).
Kepala SPPG Khusus Tangsel, Nindy Sabrina, mengatakan pihaknya membuka peluang luas bagi UMKM untuk terlibat dalam program ini. Saat ini, terdapat 15-20 UMKM yang menjadi pemasok bahan baku, mulai dari daging ayam, telur, tempe, tahu, sayuran, hingga buah-buahan.
“Semua UMKM bisa datang ke sini, bisa mengetuk pintu. Silakan ajukan penawaran sesuai spesifikasi. Selama kualitas sesuai dan harganya masuk, pasti bisa kami terima,” beber Nindy pada Jumat (27/6/2025).
Nindy menambahkan, tingginya kebutuhan dapur MBG secara otomatis menggerakkan ekonomi masyarakat. “Daging ayam saja sehari bisa 300-400 kilogram. Belum lagi beras, ikan, dan sayuran. UMKM kan mempekerjakan orang juga. Lalu ada mitra mereka seperti petani, peternak, dan nelayan. Jadi, banyak sekali masyarakat yang terdampak,” ungkapnya.
Sebagai bentuk apresiasi atas komitmennya melibatkan pelaku usaha kecil dan menengah dalam rantai pasok MBG, SPPG Khusus Tangsel bahkan mendapatkan penghargaan sebagai “SPPG Ramah UMKM”.











