Padang – Aksi tawuran kembali merenggut nyawa di Kota Padang, kali ini seorang pelajar menjadi korban. Satreskrim Polresta Padang bergerak cepat dan berhasil mengamankan lima orang terduga pelaku, ironisnya empat di antaranya adalah putus sekolah.
Kelima pelaku yang diamankan adalah FH (14), seorang pelajar SMP, GA (16), RI (15), AR (16), dan AB (16) yang semuanya tidak bersekolah. Mereka diduga kuat terlibat dalam insiden yang menewaskan Wahyu Andri Pratama (18), yang mengalami luka parah saat tawuran di Simpang Ketaping, By Pass Kota Padang pada Sabtu dinihari.
Salah seorang anggota Satreskrim Polresta Padang pada Minggu (14/9/2025) mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan pemeriksaan intensif terhadap para pelaku. “Para pelaku masih dalam pemeriksaan intensif untuk mendalami peran masing-masing dalam tawuran tersebut,” ujarnya.
Selain itu, polisi juga tengah memburu pelaku lain yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan yang merenggut nyawa pelajar SMA tersebut. Insiden tawuran ini sempat viral di media sosial, di mana dalam video yang beredar, korban terlihat tergeletak di aspal setelah dikeroyok oleh tiga orang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Tim Khusus Bravo Polresta Padang menerima laporan adanya tawuran di Simpang Ketaping sekitar pukul 03.10 WIB. Petugas segera bergerak cepat menyisir sepanjang Jalan By Pass, namun kelompok remaja yang terlibat perkelahian telah membubarkan diri. Diketahui, tawuran tersebut melibatkan kelompok yang menamakan diri Mexicko dari Khatib Sulaiman dan Aia Pacah, melawan kelompok BST (Barat Selatan Timur).
Selang satu jam kemudian, sekitar pukul 04.30 WIB, polisi menerima laporan bahwa salah satu pelaku tawuran meninggal dunia setelah dilarikan oleh teman-temannya ke RS Siti Rahmah. Korban, Wahyu, mengalami luka serius di bagian kepala, punggung, tangan, dan kaki.
Kejadian ini menambah panjang daftar kasus tawuran remaja di Kota Padang yang semakin meresahkan masyarakat. Pihak kepolisian mengimbau kepada para orang tua untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak mereka, terutama pada malam hari, guna mencegah terulangnya tragedi serupa.











