Jakarta – Pemerintah memproyeksikan teknologi satelit Non-Geostationary Satellite Orbit (NGSO), termasuk Low Earth Orbit (LEO), sebagai solusi utama untuk memperluas akses internet di wilayah terpencil yang sulit dijangkau infrastruktur telekomunikasi konvensional.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menjelaskan, kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau dan kawasan pegunungan menjadi kendala utama pembangunan kabel serat optik maupun Base Transceiver Station (BTS).
Teknologi LEO dinilai menawarkan pendekatan praktis untuk menembus keterbatasan topografi tersebut.
“Teknologi satelit LEO menawarkan solusi dengan manfaat mendasar, strategis, dan praktis. Ini menjadi pilihan tepat bagi wilayah yang secara komersial belum layak bagi operator telekomunikasi,” ujar Nezar saat membuka Indonesia Connectivity Forum 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2026).
Nezar menambahkan, kehadiran konektivitas di daerah terluar akan mengakselerasi transformasi digital serta mendorong pertumbuhan ekonomi.
Akses internet yang merata dianggap krusial untuk meningkatkan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, hingga efisiensi tata kelola pemerintahan digital di daerah.
Selain dimensi ekonomi, teknologi satelit terbukti vital dalam menjaga komunikasi saat terjadi bencana alam. Nezar mencontohkan efektivitas penggunaan LEO dalam memulihkan konektivitas yang sempat terputus di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
“Peran LEO sangat spesifik dan krusial. Saat infrastruktur terestrial lumpuh akibat bencana, konektivitas berbasis satelit menjadi jalur komunikasi satu-satunya yang mampu mendukung koordinasi darurat,” jelasnya.
Pemanfaatan teknologi satelit menjadi sorotan utama dalam Indonesia Connectivity Forum 2026 yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, serta masyarakat sipil.
Forum itu bertujuan mengonsolidasikan strategi nasional dalam memadukan infrastruktur darat dan satelit secara optimal.
Co-founder dan CEO Obviously Sustainable Rezha Bayu Oktavian Arief menegaskan, langkah ini merupakan upaya konkret menuntaskan kesenjangan digital.
Menurutnya, menghadirkan akses internet andal di seluruh desa merupakan wujud keadilan bagi masyarakat.
“Kesenjangan digital masih menjadi tantangan pembangunan yang paling mendesak. Menutup celah ini adalah kewajiban untuk memastikan tidak ada satu pun komunitas yang tertinggal dalam arus kemajuan digital,” pungkas Rezha.











