Keude Rundeng – Dampak Revolusi Hijau terhadap pertanian Indonesia menjadi sorotan seorang pembaca di Keude Rundeng pada Jumat (18/8/2025), yang terinspirasi dari buku “Silent Spring” karya Rachel Carson. Buku yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan judul “Musim Bunga Yang Bisu” itu, telah menginspirasi gerakan sosial dan lingkungan selama lebih dari tiga dekade.

Pembaca tersebut mengaku terinspirasi oleh buku tersebut enam tahun setelah diterbitkan dalam versi Bahasa Indonesia. Menurutnya, Carson yang merupakan ahli di bidang ilmu kelautan, telah membawanya pada pemahaman bahwa alam sekitar sangatlah berharga. “Seperti kata Carson, tidak ada yang berdiri sendiri di alam ini,” ujarnya.

Carson memulai kisahnya dengan menggambarkan sebuah kota fiksi di mana musim semi tidak lagi diwarnai suara burung, dengung lebah, dan keceriaan anak-anak. Bahkan, banyak warga yang jatuh sakit pada musim itu akibat penggunaan pestisida, termasuk zat-zat yang diduga bersifat karsinogenik. Carson secara cerdas mengkritik industri kimia Amerika dan regulasi federal terkait bahan kimia beracun.

Pembaca tersebut berpendapat bahwa Carson termotivasi oleh Revolusi Hijau yang mencapai puncaknya pada era 70-an hingga 80-an. Revolusi ini bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan dari lumbung-lumbung pangan dunia, terutama di negara berkembang seperti Indonesia, dengan memperkenalkan teknologi dan metode terbaru dalam mempercepat dan memperbesar produksi pertanian.

Namun, ia mengaku kurang percaya dengan teori tersebut. “Bagi saya, Revolusi Hijau bukan untuk menggenjot produksi pangan, tapi membuat ketergantungan negara-negara dunia ketiga pada negara-negara maju. Ini semacam polesan atas narasi penjajahan ekonomi dengan sedikit etika,” ungkapnya pada Jumat (18/8/2025).

Di Indonesia, Revolusi Hijau berkembang melalui Program Bimas (Bimbingan Masal) di era Orde Baru. Melalui program ini, Indonesia mencapai swasembada pangan pada tahun 1984.

Namun, Revolusi Hijau juga berdampak pada kehidupan petani. Mereka menjadi sangat tergantung pada pupuk, pestisida, dan benih produk industri. Lahan-lahan petani mengalami miskin hara, benih lokal tidak lagi diperhatikan, dan keragaman hayati mengalami kemerosotan genetik. Praktik Revolusi Hijau di seluruh dunia juga mengakibatkan degradasi pengetahuan lokal dan praktik bertani tradisional. Secara umum, pertanian telah menjadi industri yang memiskinkan petani lahir dan batin.

Saat membaca buku tersebut, ia sedang kuliah di fakultas pertanian. Carson membalikkan cara berpikirnya. “Ketika di kampus saya belajar tentang bahan-bahan aktif yang dikandung pestisida, bersama Carson justru saya berguru tentang bagaimana pestisida menghancurkan lingkungan,” katanya.

Dilema itu membawanya berkelana di banyak pedesaan, bertemu dengan para petani yang hidup susah, miskin, dan pasrah pada nasib. Di beberapa tempat, petani bahkan telah kehilangan sumber agraria yang paling vital, yaitu tanah.

Anak-anak petani jarang yang bercita-cita menjadi petani. Sebagian anak-anak yang dibesarkan dari tanah justru beralih menjadi pekerja di kota-kota dan semakin menjauhkan diri dari tanahnya sendiri.

Masyarakat perkotaan sudah benar-benar berjarak dari sumber daya alamnya. Dari sebutir beras, ia belajar bagaimana sistem pangan bekerja. Beras yang dihasilkan petani dari sawahnya mengalami perjalanan yang sangat jauh hingga dapat dicerna dalam sistem pencernaan manusia.

Proses dimulai dari benih. Meskipun masih ada petani yang mengandalkan benih lokal, namun kebanyakan kini benih berasal dari industri perbenihan. Benih harus ditanam dalam media yang sesuai jika petani menginginkan panen yang berlimpah. Untuk proses budidaya, petani harus mengeluarkan modal yang cukup untuk membeli benih, pupuk, sewa traktor, dan seterusnya.

Setelah proses tanam dan panen, padi harus dibawa ke penggilingan. Di sini, petani harus rela mengeluarkan biaya tambahan jika ingin memproses padi menjadi beras. Tidak banyak pilihan lain ketika kincir-kincir penumbuk padi sudah kekurangan air untuk memutar turbin. Di beberapa tempat, air bahkan menjadi barang langka karena harus mengalah pada hancurnya sumber-sumber air di dalam hutan.

Pengumpul beras dan gudang beras menjadi tujuan berikutnya. Selanjutnya, beras didistribusikan sampai ke pasar-pasar dan pengecer, atau bahkan diekspor. Dalam proses ini, sistem budidaya pertanian berkelindan dengan banyak sistem semisal transportasi dan perbankan, dan banyak lagi yang lain. Di sini, petani mungkin tak lagi berperan. Namun proses ini tentulah bukan tanpa biaya.

Dari segenggam beras yang ditanak di dapur-dapur rumahan maupun restoran, membuktikan padi telah mengalami perjalanan sangat panjang. Namun sebagian orang justru bangga menyisakan makanan, bahkan menjadikannya sampah untuk dibuang. Dalam pandangan agama yang dianutnya, hal ini merupakan perbuatan sia-sia. “Kalau boleh saya menyadur bebas salah satu,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *