Agam – Komunitas Pemuda Generasi Hamka (KPGH) kembali menggelar Ivent Manikam Jajak Buya Hamka yang kedua, sebagai wujud pelestarian seni budaya tradisi di kampung halaman ulama besar Buya Hamka. Acara tersebut sukses diselenggarakan pada Minggu (27/7/2025).

Festival ini merupakan lanjutan dari serangkaian kegiatan serupa yang telah dilaksanakan sebelumnya, termasuk acara pada Desember 2024, Festival Rinyuak (2019 dan 2020), serta Kemah Bakti Napak Tilas Buya Hamka (2019, 2022, dan 2024).

Pembukaan acara dimeriahkan dengan Arak-arak Bajamba Bundo Kanduang Nagari Sungai Batang yang diikuti oleh para tamu undangan, diiringi dengan kesenian Tambua Tansa. Prosesi arak-arakan ini menempuh jarak sekitar 100 meter menuju Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka.

Koordinator Acara, Fajri, didampingi oleh Ketua Pelaksana Rudi Yudistira, menjelaskan bahwa festival ini bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai kebudayaan masyarakat di kampung kelahiran Buya Hamka, khususnya di wilayah Salingka Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya.

Fajri Datuak Mangkuto Nan Basa, selaku Koordinator Acara, menyampaikan apresiasi atas dukungan dari berbagai pihak yang membuat acara berjalan sukses. “Berkat dukungan Dan Pokir Anggota Dewan Provinsi Sumatera Barat, R. Datuak Tambijo dititip ke Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, kegiatan sukses terlaksana,” ujarnya. Ia menambahkan, “Kami mengucapkan terimakasih banyak atas dukungan Angku R. Datuak Tambijo, Dinas Kebudayaan Sumbar, Pemerintah Kabupaten Agam melalui Kepala DPMN Agam Handria Asmi dan Kepala Disdikbud Agam Taslim, Pemerintah Kecamatan Tanjung Raya melalui Camat Tanjung Raya Al Hafidz, Kapolsek Tanjung Raya, AKP Muzakar dan jajaran dan Walinagari Sungai Batang, Ahsin beserta Walinagari Selingkar Tanjung Raya,” pada Minggu (27/7/2025).

Sebanyak 10 grup kesenian dari berbagai daerah turut berpartisipasi dalam memeriahkan acara tersebut, di antaranya Tari Rantak Sanggar Lareh Nan Jombang Nagari Koto Gadang VI Koto, Tari Piriang Anak Nagari Maninjau, Tari Bagurau Anak Rang Muaro Pauah, Tambua Tansa Sabariah Nagari Sungai Batang, Tambua Pupuik Batang Padi Binuang Sati Nagari Paninjauan, Tari Piriang Gumarang Sanggar Aua Sarumpun Nagari Koto Malintang, Sanggar Randai Langgam Puri Nagari Bayua, Silek Tuo Batuang Panjang, Karang Taruna Jorong Batu Nanggai Nagari Batu Nanggai, dan pelajar SD Negeri 31 Batung Panjang.

Angku R. Datuak Tambijo bersama Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Jefrinal Arifin, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Keduanya menilai bahwa panitia pelaksana telah berhasil merangkul semua pihak untuk melestarikan nilai-nilai kebudayaan yang berkaitan dengan keteladanan Buya Hamka.

Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Angku R. Datuak Tambijo, mengajak seluruh pihak untuk terus mendukung upaya pelestarian nilai-nilai keteladanan Buya Hamka. “Kita sama-sama mengetahui, bahwa Buya Hamka adalah sosok teladan kita anak bangsa Indonesia. Apalagi kita yang berasal dari suku bangsa Minangkabau, terkhusus dari Luhak Agam. Dan dengan tujuan ini, kita harus terus membangkitkan nilai-nilai Keteladanan ini kepada generasi muda kita. Melalui nilai-nilai seni dan budaya sebagai sarana dakwah kecintaan kita Tuhan Yang Maha Esa. Kita harus terus Dukung ini,” ungkapnya pada Minggu (27/7/2025).

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Jefrinal Arifin, menjelaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2027 tentang pelestarian, pemajuan, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan nasional. “Kegiatan ini adalah upaya Pelestarian, Memajukan, Mengembangkan dan Memanfaatkan Kebudayaan Nasional sesuai Undang-undang Nomor 5 Tahun 2027. Sekaligus Memperkuat Undang-undang Dasar 1945 dalam Pasal 18, tentang Provinsi dijamin memajukan kebudayaan spesifikasi budaya daerahnya,” jelasnya.

Buya Hamka, yang lahir pada 17 Februari 1908 di Tanah Sirah, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, dan wafat pada 24 Juli 1981 di Jakarta, adalah seorang ulama, sastrawan, penulis, jurnalis, dan politisi terkemuka. Ratusan karya sastra, sejarah Islam, dan budaya Minangkabau dari Pahlawan Nasional ini tetap menjadi referensi penting bagi akademisi, mahasiswa, dan pelajar di tingkat nasional maupun internasional. Karya-karyanya meliputi novel seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wick, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Merantau Ke Deli, Tuan Direktur, Di Tepi Sungai Dajlah, Di Dalam Lembah Kehidupan, Sabariah, Pribadi Hebat, dan Terusir. Selain itu, ia juga menulis buku pendidikan Islam seperti Sejarah Umat Islam, Lembaga Budi, Filsafat Hidup, Filsafat Islam, Dari Perbendaharaan Lama, Pelajaran Agama Islam, Filsafat Ketuhanan, Akhlaqul Karimah, Studi Islam, dan Tafsir Al Azhar, serta buku sejarah adat dan Islam di Minangkabau seperti Antara Fakta dan Kayal: Tuanku Rao, Ayahku, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, dan Islam dan Adat Minangkabau.

Buya Hamka tumbuh dalam lingkungan yang keras, tegas, dan gigih, yang membentuknya menjadi sosok yang berdedikasi untuk mencapai tujuan hidup yang hakiki. Melalui nilai-nilai budaya Minangkabau, ia belajar tentang sistem sosial budaya yang berlandaskan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Proses pembelajaran mendalam ini membentuk Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah menjadi ulama berkarakter yang sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan Minangkabau di Nagari Sungai Batang, wilayah Danau Maninjau. Ia juga memiliki minat dalam permainan dan kesenian tradisional seperti Randai, Saluang, Tambua Tansa, Talempong, Main Layang-layang, Barakik-rakik, hingga Basilek Tradisional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *