Baik, berikut adalah hasil penulisan ulang berita tersebut:
Padang – Sembilan kabupaten/kota di Sumatera Barat kini berjuang melawan kekeringan akibat musim kemarau yang datang lebih awal. Curah hujan yang jauh di bawah normal sejak akhir Mei 2025 memperparah kondisi ini, mengancam target swasembada pangan daerah.
JFT PMG Madya Stasiun Klimatologi Sumbar, Rizky A. Saputra, pada Jumat (27/6/2025) mengungkapkan, beberapa wilayah bahkan telah mengalami kemarau selama lebih dari lima bulan. “Kondisi ini menjadi indikator pergeseran musim dan penanda perubahan iklim,” ungkapnya.
Sebagai respons terhadap situasi ini, dua kabupaten, Solok dan Lima Puluh Kota, telah menetapkan status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sejumlah wilayah di Sumatera Barat mengalami kekeringan dengan kategori “agak kering” hingga “kering”. Berikut adalah daftar wilayah terdampak:
Kabupaten Agam: Palupuh, Pasadama, Kamang Mudiak, Koto Tuo, Palembayan
Kabupaten Lima Puluh Kota: Akabiluru, Guguak, Luhak, Padang Mangatas, Situjuah, Suliki
Kabupaten Pasaman: Kecamatan Rao
Kabupaten Pasaman Barat: Sei Baremas
Kabupaten Sijunjung: Sijunjung, Tanjung Ampalu, Empat Nagari, Kumanis, Kupitan, Lubuk Tarok, Muara Sijunjung, Sumpur Kudus, Tanjung Lolo
Kabupaten Solok: Aripan, Sumani, Surian, Hiliran Gumanti, IX Koto Seilasi, Lembah Gumanti, X Koto Diatas, Danau Kembar, Kubung, Lembang Jaya, Muara Panas, Muaro Pingai
Kabupaten Tanah Datar: Batipuh, X Koto Paninjauan, Padang Ganting, Sei Tarab, Sungayang, Cubadak, Galo Gandang, Malalo, Ombilin Weir, Salimpaung, Rambatan, Saruaso
Kota Bukittinggi dan Kota Payakumbuh: Payakumbuh Barat, Payakumbuh Selatan
Kota Sawahlunto dan Kota Solok: Lubuk Sikarah, Tanjung Harapan
Rizky A. Saputra menjelaskan, pada Jumat (27/6/2025), bahwa musim kemarau kali ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk menguatnya angin monsun Australia yang minim membawa uap air, suhu muka laut yang netral cenderung hangat, serta berkurangnya sirkulasi siklonik di sekitar Laut Mentawai dan ekuator. “Gangguan atmosfer di Samudera Hindia dan wilayah utara juga mengurangi suplai uap air,” jelasnya.
Target swasembada pangan Pemprov Sumbar, khususnya beras, terancam. Dari target luas tanam padi tahun ini sebesar 578.859 hektare, realisasi hingga akhir Juli 2025 baru mencapai 45.554 hektare. Kekeringan telah menyebabkan sawah-sawah di Kabupaten Solok, Tanah Datar, dan Lima Puluh Kota mengalami kekeringan.
Petani di Malalo (Tanah Datar) sudah mengalami gagal tanam padi dan jagung. Kondisi serupa juga terjadi di Sei Tarab, Rambatan, Padang Ganting, serta beberapa kecamatan lain di Kabupaten Solok.
Petani bawang di Surian masih berupaya menanam dengan fasilitas irigasi tetes dan sumur cadangan, sementara yang mengandalkan curah hujan berisiko gagal tanam.
Petani dan OPD terkait di Sumatera Barat disarankan mengambil langkah adaptif, termasuk penetapan tanggap darurat karhutla. Petani di daerah irigasi Anai 2, Kabupaten Padang Pariaman, yang salurannya sedang diperbaiki, disarankan beralih ke tanaman palawija yang lebih tahan kekeringan.
BMKG Stasiun Klimatologi Sumatera Barat memprediksi awal musim hujan akan bervariasi antara September hingga Oktober 2025. Diharapkan kemarau tidak berkepanjangan agar petani dapat kembali beraktivitas normal.











