Jakarta – Komisi VII DPR RI mendorong perubahan signifikan dalam pengembangan pariwisata Indonesia mulai tahun 2026. Fokus utama pergeseran ini adalah menciptakan pengalaman wisata yang aman, berkesan, dan berkelanjutan.

Anggota Komisi VII DPR RI, Mujakkir Zuhri, pada Sabtu (3/1/2025) menjelaskan, perubahan fokus ini tidak lagi hanya berorientasi pada kuantitas kunjungan wisatawan. Lebih dari itu, kualitas pengalaman, nilai ekonomi, keberlanjutan, serta manfaat sosial bagi masyarakat menjadi prioritas. “Ke depan, sektor pariwisata harus zero accidents dan berkesan,” tegasnya dalam keterangan tertulis.

Mujakkir menekankan, keselamatan dan kenyamanan wisatawan adalah kunci utama pembenahan sektor pariwisata. Ia mencontohkan kasus kematian pelatih Valencia, Fernando Martin Carreras, di Labuan Bajo sebagai pelajaran penting. Menurutnya, kejadian tersebut menjadi evaluasi mendalam tentang pentingnya menghadirkan pariwisata yang berkualitas.

Lebih lanjut, Mujakkir mengatakan, pola perjalanan wisata yang menghadirkan tantangan sekaligus peluang harus dijawab dengan kreativitas dan kolaborasi. Ia meyakini, strategi yang tepat akan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. “Pola perjalanan wisata yang menghadirkan tantangan sekaligus peluang harus dijawab dengan kreativitas dan kolaborasi,” ujarnya.

Mujakkir menambahkan, sektor pariwisata tidak hanya dinilai dari jumlah wisatawan yang datang. Pengalaman yang dirasakan wisatawan, kesiapan masyarakat lokal, dan manfaat ekonomi bagi daerah juga merupakan faktor penting.

Tren pariwisata pada tahun 2026 diprediksi akan mencakup wellness, ekowisata, gastronomi, budaya otentik, dan adopsi teknologi digital. Hal ini diharapkan dapat mendorong peningkatan devisa negara, pemberdayaan komunitas lokal, serta daya saing global Indonesia.

Mujakkir menegaskan, sektor pariwisata tidak boleh lagi dipandang hanya sebagai sektor hiburan semata, melainkan sebagai investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat. Ia berharap pariwisata Indonesia akan tumbuh lebih jelas, aman, dan berkelanjutan. “Tidak boleh lagi sektor pariwisata hanya dipandang sebagai sektor hiburan, tetapi sebagai investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat,” tegasnya pada Sabtu (3/1/2025).

Sebelumnya, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menanggapi keluhan terkait mahalnya biaya wisata domestik yang menyebabkan banyak wisatawan Indonesia memilih berlibur ke luar negeri. Menteri Widiyanti juga telah mengungkap sejumlah diskon tiket liburan sebagai upaya menarik minat wisatawan domestik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *