Jakarta – Wacana pembatasan media sosial menuai respons dari kalangan kreator muda. YouTuber Omped Visual menilai kebijakan tersebut dapat mematikan potensi kreator kecil.

Pendapat tersebut disampaikan Alfarid Ramadani, nama asli Omped Visual, saat menjadi bintang tamu di Podcast Kasisolusi. Pernyataan tersebut memicu diskusi di kalangan anak muda dan kreator digital.

Omped Visual dikenal sebagai fenomena baru di dunia konten Indonesia. Di usia muda, ia berhasil membangun basis penggemar yang besar. Akun Instagram @omped_visual diikuti 1,2 juta orang, TikTok 11,2 juta pengikut, dan kanal YouTube-nya memiliki 14,2 juta subscriber.

Dalam podcast tersebut, Omped Visual menilai wacana pembatasan media sosial berpotensi mematikan ruang gerak kreator yang baru merintis karier. “Banyak yang hidupnya benar-benar bergantung dari konten,” ungkap Omped Visual pada Jumat (27/6/2025).

Latar belakang Omped Visual membuat pernyataannya semakin kuat. Seluruh kontennya direkam hanya dengan menggunakan handphone. Tidak ada kamera profesional, studio mewah, atau tim produksi besar. Namun, dari kesederhanaan itu, lahir angka-angka yang mencengangkan.

Dalam dua tahun, Omped Visual berhasil mengumpulkan 14,2 juta subscriber YouTube. Salah satu pencapaiannya adalah video shorts-nya menembus satu miliar tontonan hanya dalam satu bulan. Hingga kini, total tayangan di kanal YouTube-nya mencapai sekitar 13,7 miliar views.

Angka tersebut membuat banyak orang tercengang. Jika dibandingkan dengan lima YouTuber terbesar di Indonesia, total tayangan Omped Visual hampir dua kali lipat lebih tinggi. Padahal, jumlah video yang ia unggah hanya sekitar 800 video. Fakta ini membuat namanya kerap disebut sebagai “anomali” di dunia kreator digital.

Omped Visual juga menegaskan bahwa kekuatan utama konten bukan terletak pada alat, melainkan pada cerita. Ia mengaku lebih fokus menjual ide dan sudut pandang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Konten sketsa komedi yang ia buat lahir dari observasi sederhana, namun dikemas dengan gaya yang mudah diterima oleh semua kalangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *