Padang – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) menyoroti angka stunting yang belum menunjukkan penurunan signifikan, meskipun berbagai program percepatan telah dijalankan sejak tahun 2018. Hal ini menjadi perhatian serius dalam Rapat Koordinasi Regional Program Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2025.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menyampaikan keprihatinannya pada Kamis (9/10/2025), bahwa tren penurunan angka stunting secara umum belum begitu signifikan. “Kondisi ini perlu menjadi perhatian kita semua karena dampak dari stunting bersifat jangka panjang dan dapat mengancam terwujudnya Indonesia Emas. Saat ini angka stunting di Sumatera Barat sudah lebih dari 24 persen. Ini menjadi tantangan sekaligus ancaman bagi kualitas sumber daya manusia kita,” tegasnya.
Mahyeldi menambahkan, terwujudnya Indonesia Emas mustahil tercapai jika kualitas SDM yang dihasilkan tidak memadai. Oleh sebab itu, Sumatera Barat harus mengambil langkah strategis melalui intervensi spesifik dan sensitif yang dilakukan secara konvergen, integratif, dan berkualitas, dengan kerja sama multisektor. “Stunting ini disebabkan oleh banyak faktor, sehingga kita harus menggerakkan seluruh sektor yang ada, serta meningkatkan perhatian dan kepedulian bersama,” jelas Gubernur Mahyeldi.
Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemko) Padang terus berupaya menekan angka stunting di wilayahnya melalui penguatan strategi dan kolaborasi lintas sektor. Kepala Bappeda Kota Padang, Yenni Yuliza, menegaskan komitmen tersebut dalam rapat yang digelar di Pangeran Beach Hotel, Padang, Kamis (9/10/2025). “Program stunting adalah program pencapaian bersama, dari nasional, provinsi, hingga kabupaten dan kota. Di Kota Padang, kami memang berkonsentrasi untuk penurunan stunting, dan sudah melakukan berbagai tahapan untuk mencapainya,” ujarnya.
Yenni Yuliza menjelaskan, penanganan stunting di Padang tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab satu dinas saja. Menurutnya, kolaborasi antar perangkat daerah menjadi kunci agar upaya pencegahan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Pemko Padang menerapkan strategi pencegahan yang dimulai sejak dini, bahkan sebelum anak lahir. “Kita tidak hanya fokus pada bayi saja, tetapi juga melakukan pencegahan sejak dini mulai dari remaja. Edukasi diberikan kepada pelajar melalui Dinas Pendidikan, serta pembinaan dan pembekalan kepada calon pengantin oleh DP3AP2KB. Untuk bayi dan balita, intervensi dilakukan oleh Dinas Kesehatan melalui puskesmas dan masyarakat sekitar,” jelasnya.
Yenni Yuliza juga menegaskan bahwa penurunan angka stunting di Padang sangat berkaitan erat dengan upaya penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pemko Padang akan terus berupaya memperkuat strategi dan belajar dari daerah lain seperti Kabupaten Pasaman, Kota Payakumbuh, dan Kota Solok yang telah berhasil menekan angka stunting lebih signifikan.
“Kita akan coba mengidentifikasi sasaran bayi yang berisiko, melakukan intervensi yang lebih spesifik, serta memperkuat kolaborasi antar sektor untuk mencapai target nasional,” pungkasnya.











