Jakarta – Fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) akan menghiasi langit Indonesia pada malam 7-8 September 2025. Masyarakat di seluruh penjuru tanah air berkesempatan menyaksikan langsung peristiwa astronomi langka yang dikenal juga dengan sebutan Blood Moon atau Bulan Merah Darah ini.

Menurut data ilmiah, durasi GBT kali ini diperkirakan mencapai 82 menit. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu gerhana bulan terlama dalam satu dekade terakhir.

Peneliti Ahli Utama BRIN bidang Astronomi dan Astrofisika, Prof. Thomas Djamaluddin menjelaskan, warna merah yang muncul pada Bulan saat gerhana disebabkan oleh pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. “Alih-alih menjadi gelap saat GBT, purnama berubah warna jadi memerah,” jelas Djamaluddin pada Jumat (27/6/2025).

Djamaluddin menambahkan, atmosfer Bumi memiliki peran penting dalam fenomena ini. Atmosfer menyaring cahaya biru dan hanya membiarkan gelombang merah yang lebih panjang mencapai Bulan. “Hanya cahaya merah yang mencapai Bulan karena warna lain telah dihamburkan oleh atmosfer bumi,” imbuhnya.

Kemudahan pengamatan GBT menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Djamaluddin mengatakan, fenomena ini dapat disaksikan tanpa alat bantu khusus dari seluruh wilayah Indonesia. “Gerhana ini bisa terlihat tanpa bantuan alat, hanya dengan mata telanjang kita sudah bisa menikmatinya. Tentu saja bila ada teleskop dan kamera akan lebih baik lagi untuk mengabadikannya,” ujarnya.

GBT akan melalui beberapa fase, mulai dari penumbral (bayangan samar), gerhana sebagian, hingga total, kemudian kembali lagi ke fase gerhana sebagian dan penumbral. Setiap fase menawarkan pemandangan visual yang berbeda dan menarik untuk diamati.

Selain keindahan visualnya, GBT juga memiliki nilai edukasi yang tinggi. Djamaluddin mendorong masyarakat untuk memanfaatkan momen ini sebagai sarana belajar astronomi. Ia menjelaskan bahwa keteraturan orbit Bulan mengelilingi Bumi, serta Bumi dan Bulan mengelilingi Matahari, memungkinkan perkiraan waktu terjadinya gerhana.

“Ini bukan sekadar tontonan, tetapi momentum untuk mengenal mekanika benda langit, orbit Bulan, dan konfigurasi Bumi-Matahari-Bulan,” tuturnya. Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa kelengkungan bayangan Bumi pada Bulan menjadi bukti bahwa Bumi berbentuk bulat, bukan datar.

Selain Indonesia, GBT ini juga dapat disaksikan di sejumlah wilayah di Asia, Australia, Afrika, dan Eropa. Namun, hanya Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara dan Timur yang dapat menikmati seluruh rangkaian fase GBT. Sementara itu, benua Amerika tidak dapat mengamati fenomena ini karena saat itu sedang siang hari.

Dengan keindahan visual dan nilai ilmiah yang terkandung di dalamnya, GBT 2025 mengajak masyarakat untuk tidak hanya sekadar melihat langit, tetapi juga untuk memahaminya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *