Jakarta – Di tengah ancaman krisis sistemik yang membayangi persatuan dan kesatuan bangsa, Guru Besar ITB, Yazid Bindar, menyerukan manifesto kebangsaan baru. Seruan ini muncul sebagai respons terhadap kerapuhan integritas, lemahnya kepemimpinan, rapuhnya demokrasi, dan meluasnya korupsi yang dinilai telah menggerogoti berbagai lini kehidupan berbangsa dan bernegara.
Yazid Bindar, Dosen dan Guru Besar Fakultas Teknologi Industri ITB, menyampaikan bahwa kondisi ini diperparah dengan janji keadilan sosial yang semakin jauh dari harapan. Kerapuhan ini, menurutnya, bukanlah fenomena baru, melainkan telah terlihat sejak awal reformasi. “Manifesto ini bukan sekadar teks, melainkan api yang harus dijaga, ditiup, dan diwariskan,” ujarnya dalam pernyataan tertulis, Jumat (27/6/2025).
Yazid Bindar menjelaskan, manifesto kebangsaan ini berisi seruan moral untuk menegakkan integritas, mengembalikan kepemimpinan pada ruh amanah, meluruskan demokrasi, melawan korupsi, menjaga kedaulatan sumber daya, dan menghidupkan kembali etika sosial. Ia menegaskan bahwa manifesto ini bukanlah program politik praktis, melainkan arah moral bangsa yang harus menjadi pegangan bagi siapa pun yang ingin menyelamatkan Indonesia.
Lebih lanjut, Yazid Bindar menuturkan bahwa kerapuhan bangsa ini berakar pada runtuhnya etika sosial, di mana budaya gotong royong digantikan oleh individualisme. Ia menekankan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai etika sosial yang didasari oleh kejujuran, kesederhanaan, kerja keras, dan gotong royong.
Yazid Bindar juga menyoroti masalah korupsi yang telah menjadi budaya dan pengkhianatan terhadap cita-cita bangsa. Ia menegaskan bahwa melawan korupsi bukan hanya tugas KPK atau aparat hukum, melainkan tugas moral seluruh bangsa.
Menurut Yazid Bindar, kedaulatan ekonomi harus dikembalikan demi kemakmuran dan martabat bangsa. Ia juga menekankan bahwa kebangkitan bangsa harus dimulai dengan menghidupkan kembali nilai-nilai etika sosial melalui pendidikan karakter, teladan kepemimpinan, dan penguatan komunitas lokal.
Yazid Bindar menambahkan, kebangkitan bangsa tidak bisa hanya menunggu kebaikan hati dari elite, melainkan harus lahir dari kesadaran kolektif rakyat. “Ketika rakyat bersatu, perbaikan kebangsaan dapat dibangun, pengembalian sistem kekuasaan ke arah yang benar sesuai dengan amanat konstitusi dapat dilakukan,” pungkasnya pada Jumat (27/6/2025).











