Padang – Gelombang demonstrasi mahasiswa Universitas Andalas (Unand) menggema di depan gedung DPRD Sumbar, Senin (1/9/2025), sebagai respons atas tragedi tewasnya pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, yang terlindas kendaraan taktis (rantis). Aksi ini dipandang sebagai simbol kebangkitan moral di tengah sorotan tajam terhadap kinerja aparat.
Pijar Qolbun Sallim, mahasiswa Ilmu Politik Unand, menilai demonstrasi tersebut sebagai bukti bahwa masih ada kekuatan moral yang berdiri tegak di tengah merosotnya solidaritas bangsa. Menurutnya, mahasiswa turun ke jalan dengan membawa gagasan, tuntutan, dan sikap bermartabat, bukan amarah yang tak terkendali.
Pijar menjelaskan, aksi mahasiswa Unand pada Senin (1/9/2025) dapat dianalisis melalui dua teori gerakan sosial. Pertama, Resource Mobilization Theory, yang menyoroti bagaimana gerakan sosial muncul dari kemampuan mengorganisir sumber daya, seperti manusia, gagasan, jaringan, dan legitimasi. Mahasiswa Unand, kata Pijar, membuktikan hal itu dengan membawa 17 + 8 tuntutan yang dirumuskan secara matang.
“Mereka tidak datang membawa amarah kosong, melainkan gagasan yang dirumuskan dalam 17 + 8 tuntutan,” ujar Pijar.
Lebih lanjut, Pijar menambahkan bahwa pelepasan aksi oleh rektor merupakan simbol legitimasi moral sekaligus dukungan institusional. Bahkan, setelah aksi selesai, mahasiswa memungut sampah sendiri sebagai bentuk simbolik yang memperlihatkan moral resources dan kapasitas organisasi mereka.
Kedua, Political Opportunity Structure, menurut Pijar, menegaskan bahwa gerakan muncul ketika ada celah politik yang memungkinkan suara rakyat didengar. Tragedi Affan membuka ruang itu, di mana publik marah, legitimasi Polri merosot, dan mahasiswa melihat peluang untuk menyalakan kembali agenda reformasi.
“Demonstrasi 1 September menjadi medium untuk menegaskan: mahasiswa tidak sekadar bereaksi pada kasus Affan, tetapi memanfaatkan momentum untuk mengajukan agenda perubahan yang lebih luas,” imbuhnya.
Pijar menambahkan, aksi demonstrasi pada Senin (1/9/2025) berlangsung tertib dan damai hingga pukul enam sore. Mahasiswa Unand memungut sampah sendiri, seakan ingin menunjukkan wajah sejati demonstrasi yang lahir dari kesadaran, bukan kerusuhan.
Menurut Pijar, kematian Affan dan demonstrasi mahasiswa adalah cermin yang saling melengkapi. Kematian Affan mencerminkan wajah muram negara yang gagal menjaga kemanusiaan, sementara demonstrasi mahasiswa memberikan secercah harapan bahwa bangsa ini belum sepenuhnya mati rasa.
“Pada Affan, kita melihat wajah muram negara yang gagal menjaga kemanusiaan. Pada mahasiswa, kita melihat secercah harapan: bahwa bangsa ini belum sepenuhnya mati rasa,” pungkasnya.
Pijar menekankan bahwa tuntutan reformasi Polri yang lahir dari tragedi Affan Kurniawan tidak boleh berhenti pada kecaman, melainkan harus menjadi agenda politik nasional yang dikawal. Reformasi Polri bukan hanya soal restrukturisasi, tapi juga reformasi budaya agar aparat kembali sadar bahwa rakyat bukan objek untuk ditindas, melainkan subjek yang harus dilindungi.











