Padang – Menyusul tewasnya seorang pelajar akibat tawuran, Kapolda Sumatera Barat Irjen Gatot Tri Suryanta memberikan peringatan keras kepada lima pelaku yang terlibat. Peringatan tersebut disampaikan langsung di Mapolda Sumbar, Senin (15/9/2025).
Dalam pertemuan tersebut, Kapolda Gatot menegaskan bahwa aksi tawuran tidak boleh terulang kembali. “Ini harus menjadi perhatian bersama, apalagi kasus ini sudah menyebabkan korban meninggal,” ujar Gatot melalui akun Instagram pribadinya, Senin (15/9/2025).
Selain memberikan peringatan, Irjen Gatot juga meninjau langsung barang bukti senjata tajam yang digunakan para pelaku, yang sebagian besar masih berstatus pelajar. Senjata-senjata tersebut meliputi celurit panjang, samurai, dan golok.
Gatot menambahkan, para pelaku tawuran harus diberikan pembinaan intensif agar menyadari kesalahan mereka. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban demi menciptakan situasi yang aman dan kondusif di Sumatera Barat. “Saya tegaskan bahwa aksi tawuran tidak boleh terulang kembali,” tegas Gatot.
Sebelumnya, Satreskrim Polresta Padang telah berhasil menangkap lima orang terkait kasus tawuran yang menyebabkan seorang pelajar meninggal dunia. Empat dari lima pelaku tersebut diketahui tidak lagi bersekolah.
Kelima pelaku yang ditangkap adalah FH (14), seorang pelajar SMP N, GA (16), RI (15), AR (16), dan AB (16), yang semuanya tidak bersekolah. Mereka diduga terlibat dalam insiden yang menyebabkan Wahyu Andri Pratama (18) mengalami luka berat dan akhirnya meninggal dunia akibat tawuran yang terjadi pada Sabtu dini hari di Simpang Ketaping, By Pass Kota Padang.
Tawuran tersebut melibatkan kelompok yang menamakan diri Mexicko dari Khatib Sulaiman dan Aia Pacah, melawan kelompok BST (Barat Selatan Timur).
Peristiwa ini menambah panjang daftar kasus tawuran remaja di Kota Padang yang semakin meresahkan masyarakat. Pihak kepolisian mengimbau kepada seluruh orang tua untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak mereka, terutama pada malam hari, guna mencegah terulangnya tragedi serupa.











