Berikut adalah hasil penulisan ulang berita:
Padang – Misteri sejarah Pulau Cingkuk di Pesisir Selatan, Sumatra Barat, perlu diluruskan agar tidak menghambat potensi wisata edukatif. Masyarakat setempat mengenal pulau ini sebagai “Benteng Portugis,” namun bukti sejarah mengarah pada peninggalan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Sejumlah ahli berpendapat bahwa kesalahan penafsiran sejarah ini dapat menyesatkan dan menghambat pengembangan wisata sejarah yang edukatif. Penelitian tahun 2021 tidak menemukan bukti dokumentasi yang menyebutkan Portugis pernah tinggal atau membangun pusat perdagangan di pulau tersebut.
Arsip surat dari pedagang VOC yang berlayar dari Batavia ke berbagai wilayah di Sumatra Barat pada tahun 1551 memperkuat temuan ini. “Dalam surat tersebut, tidak ditemukan catatan mengenai keberadaan Portugis di Pulau Cingkuk,” ujar seorang peneliti sejarah, Jumat (27/6/2025).
Penamaan dan pemahaman yang keliru terhadap situs sejarah dapat menyesatkan pengunjung dan menciptakan narasi palsu tentang hubungan sejarah Minangkabau dengan bangsa Eropa. Hal ini juga mengaburkan peran penting VOC dan dinamika lokal-kolonial yang pernah terjadi di wilayah tersebut.
Akun Instagram @kabarpesisirselatan menayangkan kunjungan sekelompok pemuda dan wisatawan asing ke Pulau Cingkuk pada Selasa (5/8/2025). Dalam unggahan tersebut, seorang wisatawan asing menceritakan sejarah makam di pulau itu. “Katanya dalam satu makam tersebut ada sepasang suami istri yang berasal dari Negara Belanda setelah 150 tahun meninggal dunia. Tulang belulangnya ditemukan disuatu tempat, lalu dikuburkan kan ulang oleh seorang yang berasal dari Negara Perancis. Makanya, makam tersebut bertuliskan bahasa Perancis, bukan Portugis ataupun Belanda,” tulis akun tersebut.
Kisah ini menggambarkan bagaimana kekeliruan dalam penafsiran sejarah dapat memunculkan tafsir lain yang tidak akurat. Wisata sejarah seharusnya menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, tempat pengunjung dapat merenungkan perjuangan, diplomasi, perlawanan, dan interaksi lintas budaya yang membentuk masyarakat saat ini.
Sayangnya, banyak situs sejarah di Indonesia, termasuk Pulau Cingkuk, belum dikelola dengan baik. Tidak ada papan informasi yang memadai, narasi resmi yang jelas, atau pelibatan masyarakat lokal dalam mengelola pengetahuan sejarah.
Salah satu tokoh penting yang terkait dengan sejarah Pulau Cingkuk adalah Susanna Geertruij Haije, istri dari Thomas van Kempen, kepala pedagang VOC











